Tandatangan MoU Dan Disuguhi Ketan Mangga Di Kampus Milik Bos Manchester City

Catatan Dari Lawatan Kerja Unitomo Ke Thailand – Bagian V (Terakhir)
Hari ke empat, Kamis (19/11) adalah hari terakhir lawatan kerja rombongan Unitomo di Thailand. Sesuai jadwal semua anggota rombongan harus sudah sarapan dan siap di lobi hotel jam 8 pagi. Bedanya dengan hari-hari sebelumnya, mereka juga sudah harus check out dan mem-packing semua barang bawaan ke dalam tas atau koper masing-masing.

Cukup ribet, karena jumlah barang bawaan hampir seluruh anggota rombongan umumnya bertambah 2 atau 3 kali lipat dari saat berangkat. “Saya tadi malam menyempatkan lagi mampir ke MBK Centre beli beberapa buah tangan, termasuk kaos 20 buah untuk teman se-fakultas”, ujar salah satu dekan, Drs. Basuki Nugroho, MSi, dari Fakultas Ilmu Administrasi.

Hal sama juga dialami Dr. Siti Marwiah, M.H. Dekan Fakultas Hukum ini bahkan terpaksa harus membeli tas koper baru untuk bisa memuat barang-barang belanjaannya. “Supaya gak ribet kalau dimasukkan dalam tas-tas plastik atau kresek, sebab yang harus dibawain oleh-oleh banyak”, ujarnya.

Alhasil, mobil pun terasa sesak. Padahal, perjalanan menuju Shinawatra University (SU) — kampus terakhir yang dikunjungi — cukup jauh. Sekitar 2 jam perjalanan dari Bangkok dan melewati daerah pedesaan yang sebagian jalannya sedang dalam perbaikan.

Berdiri tahun 1997, SU didirikan oleh dan menggunakan nama keluarga mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, yang juga dikenal sebagai pemilik klub bola terkenal Inggris, Mancester City. Kompleks kampusnya yang luas dan megah terletak di pesolok Pathumtani yang kental dengan suasana pedesaan.

Menariknya, kompleks kampus ini jauh dari pemukiman dan berada di tengah hamparan pertanian. Hampir semua mahasiswanya yang berjumlah “hanya” sekitar 3 ribu tinggal di asrama. Selain dari Thailand, mereka juga berasal dari hampir 20 negara lain di kawasan Asia.

Setelah melewati jalan masuk ke kompleks kampus yang diapit 2 telaga yang cukup besar, rombongan tiba di gedung utama kampus disambut Dr. Achmad, dosen asal Thailand Selatan yang ternyata pandai berbahasa melayu. “Di wilayah saya, mayoritas warganya memang beragama Islam dan bahasa yang digunakan sehari-hari ialah bahasa Melayu”, jelas Achmad menjawab rasa penasaran anggota rombongan yang semula mengira ia orang Indonesia atau setidaknya Melayu. Ia mengantar rombongan naik ke lantai 4 menuju sebuah auditorium yang mewah, tidak kalah dengan studio XXI di Surabaya, dan bertemu dengan Associate Prof. Dr. Boonsom Lerthirunwong, presiden SU yang sudah menunggu bersama jajaran pimpinan universitas dan fakultasnya.

IMG_8386
Suasana di auditorium Shinawatra University

Setelah saling memperkenalkan diri dan bertukar kartu nama, acara pertemuan pun dimulai dengan sejumlah sambutan, presentasi kampus, diskusi, dan diakhiri penandatanganan MoU oleh kedua pimpinan universitas. Prosesnya semua cukup lancar, meski Prof. Boonsom sempat meminta ada sedikit perubahan dalam draft MoU yang akan ditandatangani.

IMG_8489
Penandatanganan MoU diantara presiden Shinawatra University, Associate Prof. Dr. Boonsom Lerthirunwong dan rektor Unitomo, Dr. Bachrul Amiq, MH.

Namun itu tidak masalah. Meminjam printer di ruang IRO yang terletak di lantai dasar, Humas Unitomo Dandy Patria bisa segera memperbaikinya dan langsung mem-prin-out naskah MoU untuk ditandatangani di aula gedung presiden disaksikan semua anggota delegasi.

IMG_8504
Dan … MoU pun sah setelah mendapat stempel resmi dari kedua universitas

Usai acara tandatangan, rombongan dijamu makan siang oleh Prof. Bloonsom dan kolega di cafetaria SU yang luas dan megah, berbaur dengan dosen dan mahasiswa lain, karena memang bertepatan dengan jam makan siang. Menu pembukanya tidak terlalu istimewa, sama seperti masakan Thailand lain yang pernah disuguhkan selama rombongan berada di negeri gajah putih ini. Perlu adaptasi untuk bisa merasakan nikmatnya.

Yang luar biasa justru makanan penutupnya, yaitu ketan mangga. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, ketan agak tidak lazim disajikan sebagai makanan penutup, karena tergolong makanan berat. Tapi justru sajian inilah yang rupanya menjadi bintang bagi rombongan Unitomo. Banyak yang tidak bisa menolak ketika ditawari lagi seporsi ketan mangga, saat porsi yang pertama sudah langsung ludes hanya beberapa menit sesudah disajikan di atas meja. “Rasa ketannya luar biasa, begitu pun mangganya. Saya juga habis 2 porsi”, ujar Dr. Slamet Riyadi, wakil rektor 3 Unitomo.

Jpeg
Ketan mangga super nikmat yang tersaji di Cafetaria kampus Shinawatra University

Usai menikmati ketan mangga dan berfoto-foto sejenak dengan Prof. Bloonsom dan kawan-kawan, rombongan pun pamit dan dilepas hingga ke tangga gedung utama kampus. Saat bersalaman dengan Prof. Bloonsom, Dr. Bachrul Amiq tak lupa mengingatkan agar keduanya terus mengawal kerjasama yang sudah ditandatangani agar benar-benar bisa ditindaklanjuti. Dan Prof. Bloonsom pun mengamini hal itu. “Pasti”, katanya.

Akhirnya, sebelum pukul jam 3 sore rombongan sudah tiba di airport Don Muang. Sempat tertunda 2 jam, pesawat Air Asia yang membawa rombongan akhirnya lepas landas jam 6 petang. Tidak langsung ke Juanda, tapi transit dulu di Cengkareng. Itu sebabnya rombongan baru mendarat di Juanda menjelang jam 12 malam.

Lelah, tapi bahagia … dan optimis. Tentu masih banyak yang harus dilakukan agar Unitomo bisa go international. Dan lawatan 4 hari ini adalah langkah awal untuk itu … (dp)..

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Name *
Email *
Website