Ujian Kerja Ke Korea di Unitomo

Pelaksanaan Ujian EPS-TOPIK di Unitomo

Sebanyak 7.452 calon TKI dari berbagai daerah di Jatim dan Indonesia Timur, selama 2 hari, Sabtu-Minggu (01-02/04), menempuh ujian tahap I Employment Permit System Test Of Proficiency In Korea (EPS-TOPIK) di kampus Unitomo Jl. Semolowaru Surabaya. Kegiatan diselenggarakan Human Resource Development Service Korea(HRDK) bekerjasama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Para calon TKI ini merupakan sebagian dari 30.109 orang yang telah mendaftar melalui online system BNP2TKI untuk bekerja di berbagai sektor manufaktur di Korea Selatan. Selain di Unitomo Surabaya, pada waktu yang sama juga berlangsung tes serupa di Universitas Sebelas Maret Solo yang diikuti 14.978 orang, di Institut Koperasi Indonesia Bandung 5.751 orang, dan di Universitas Esa Unggul 1.928 orang.

Pertemuan tim BNP2TKI, HRDK dan rektor Unitomo

Menurut Agusdin Subiantoro, Deputi Penempatan BNP2TKI, sistem perekrutan TKI ke negeri ginseng itu sejak 2016 sudah menggunakan model EPS-Point System, yang terdiri 2 tahap tes.”Yang berlangsung selama 2 hari kemarin merupakan ujian tahap I, yaitu Tes Bahasa Korea. Mereka yang lolos tahap pertama, bisa lanjut ke tahap II, yaitu Tes Keterampilan dan Kompetensi, yang menurut rencana akan berlangsung 24 Mei mendatang”, ujar Agusdin didampingi Hwang Jong-rok dari Human Resource Development Service Korea(HRDK), dalam pertemuan dengan rektor Unitomo Bachrul Amiq usai meninjau pelaksanaan tes Minggu(02/04).

Gaji 16 Juta Rupiah Per Bulan

Sejak 2004 hingga 2016 BNP2TKI sudah mengirim 68.164 TKI ke Korea Selatan. “Sepanjang 2016 lalu, pengiriman uang (remitansi) dari TKI yang bekerja di Korea Selatan,yang dapat diketahui melalui sistem perbankan, mencapai hampir 200 juta US dollar, atau sekitar 2,7 trilyun rupiah. Belum termasuk pengiriman melalui teman atau saudara yang pulang ke Indonesia tanpa melalui transaksi perbankan”, jelas Agusdin.

Hwang Jong-rok bertukar kartu nama dengan Bachrul Amiq, disaksikan Agusdin Subiantoro

Selain Indonesia Korea Selatan juga menjalin kerjasama melalui program Government to Government (G to G) dengan 15 negara lain untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja mereka. “Khusus tahun 2017, jumlah yang dibutuhkan 58.000 orang. Indonesia mendapat kuota 5.200 orang untuk memenuhi kebutuhan di sektor manufaktur. Upah yang mereka terima nantinya tidak kurang dari upah minimum Korea Selatan saat ini, yaitu sebesar 1,35 juta won,atau setara 16 juta rupiah”, paparnya.

Tingkatkan Kerjasama, Gelar KKN Tematik

Unitomo sendiri sudah 4 kali menjadi tuan rumah dan fasilitator pelaksanaan ujian EPS-TOPIK. Dalam pertemuan usai meninjau pelaksanaan tes Minggu (02/04), BNP2TKI dan Unitomo sepakat meningkatkan kerjasama dalam hal penyelenggaraan KKN Tematik. “Kami mengundang BNP2TKI untuk ikut memberi bekal pemahaman kepada civitas akademika Unitomo tentang peran BNP2TKI, agar selanjutnya kami juga bisa ikut mensosialisasikan peran BNP2TKI kepada masyarakat. Kepada para mahasiswa yang akan menempuh KKN misalnya, kita bisa merancang KKN tematik terutama jika lokasinya berada di kantong-kantong asal TKI, sehingga para mahasiswa nantinya bisa sekaligus ikut menyosialisasikan peran dan program-program BNP2TKI ke masyarakat”, ujar rektor Unitomo, Bachrul Amiq, kepada Agusdin Subiantoro dan Hwang Jong-rok beserta tim dari BNP2TKI dan HRDK yang ikut dalam pertemuan.

Agusdin menyambut baik ide ini karena BNP2TKI sebelumnyamemang sudah menjalin kerjasama serupa dengan beberapa kampus, seperti Univ. Nusa Cendana Kupang, Univ. Jenderal Sudirman Purwokerto, Univ. Trinanti Palembang, dan Univ. Negeri Semarang.“Tahun ini BNP2TKI juga sudah berencana mengadakan hal itu dengan IAIN Sultan Maulana Hasanudin Serang Banten. Dalam KKN tematik ini, para mahasiswa akan dibekali, antara lain dengan informasi tentang bagaimana menjadi TKI secara prosedural. Ini yang nantinya akan mereka teruskan ke masyarakat”, pungkasnya.(Dan)

Share This: