|
Morimoto Asuka, Mahasiswi Jepang yang Tertarik Ilmu Mistik Teliti Upacara Pemakaman dan Ingin Jadi Dukun
Bagi kebanyakan orang, dunia mistik dihindari, bahkan dijauhi. Namun, tidak demikian Morimoto Asuka, mahasiswi asal Universitas Setsunan, Osaka, Jepang. Dia justru penasaran dan ingin tahu lebih dalam tentang ilmu itu. Mengapa?
---
Asuka kini menjadi mahasiswa tamu di Fakultas Sastra Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya. Dia berada di Indonesia selama setahun, sejak September tahun lalu. Nah, setelah beberapa saat tinggal di Surabaya, dia mulai tertarik dengan tradisi-tradisi unik yang berkembang di masyarakat Indonesia. Di antaranya, model penguburan jenazah yang berbeda-beda dan ilmu perdukunan.
Misalnya, upacara penguburan jenazah orang Islam, Kristen, dan Hindu. Jenazah pemeluk Islam dan Kristen dikubur dalam tanah, sedangkan jasad orang Hindu di Bali dibakar (diaben). Belum lagi pemakaman warga Toraja, yang ditempatkan di dinding-dinding tebing dengan upacara besar yang mengawalinya.
"Itu menakjubkan bagi saya. Saya sangat tertarik untuk menelitinya. Di Jepang tidak ada yang unik-unik seperti itu," ungkap Asuka. Asuka menyebut tradisi itu sebagai mistik karena mengandung ilmu di luar logika. Karena itu, dia kini mulai menyiapkan penelitian secara khusus tentang model-model pemakaman jenazah orang Indonesia.
Berbagai cara dilakukan oleh mahasiswa 20 tahun tersebut untuk mengumpulkan literatur pendukung bagi penelitian itu. Mulai browsing di internet hingga mencari buku-buku tentang berbagai model upacara pemakaman di Indonesia. Tapi, dia menyatakan kesulitan menemukannya. Menurut dia, tak banyak buku ilmiah yang mengupas tradisi tersebut.
Asuka menuturkan sudah berkeliling ke sejumlah perpustakaan. Namun, buku-buku yang dicari tak juga ditemukan. "Saya mendapatkan penjelasan menarik tentang tradisi pemakaman orang Islam, Kristen, Hindu, dan Toraja ketika kuliah," ucap dia.
Berdasar penjelasan di ruang kuliah itu, dia mengembangkan wawasan dengan studi pustaka dan mengamati langsung sejumlah upacara pemakaman. Dari situlah dia memperoleh berbagai pengalaman yang belum dia dapat di Jepang. "Saya suka itu," ujarnya dengan bahasa Indonesia yang belum begitu lancar. "Saya sudah melihat upacara pemakaman dengan cara Islam dan Kristen. Cara dan prosesnya berbeda, sangat menarik," ungkap dia.
Berdasar pengamatan itu, dia menemukan unsur mistik yang berbeda pada umat Islam, Kristen, dan Hindu. Begitu juga upacara pemakaman jenazah di Toraja. "Lucu dan menarik bagi saya," ujar penggemar nasi padang tersebut.
Rasa penasaran itu semakin besar begitu Asuka mendapatkan penjelasan tentang dukun, santet, dan pelet. Dia menyebut dukun, santet, dan pelet sebagai black magic (ilmu hitam). Yakni, sesuatu di luar logika, tapi bisa dilihat secara nyata. "Bagus sekali jika bisa diteliti," ujarnya.
Hanya, Asuka lagi-lagi kesulitan dalam menemukan buku-buku referensi yang menjelaskan mistik dengan gamblang. Mahasiswi asal Eirakusi, Toyonaka, Osaka, Jepang, tersebut pernah putus asa dan tidak jadi meneliti hal tersebut karena keterbatasan referensi. Namun, setelah mendapatkan dorongan dari teman-teman di Unitomo, semangat Asuka untuk melaksanakan penelitian unik tersebut kembali membara.
"Saya harus bisa. Saya akan terus mencari bahan untuk penelitian saya," ucap dia. Saking bersemangatnya, mahasiswi berambut pendek itu ingin mempelajari ilmu perdukunan. Dia pun bersiap menjalin komunikasi dengan banyak dukun. Selain bertujuan menyerap ilmu perdukunan, dia ingin bisa menjadi seperti dukun.
Dengan cara itu, dia akan punya ilmu yang dalam tentang dunia perdukunan. "Siapa tahu, nanti saya bisa mengajarkannya di Jepang," tutur gadis kelahiran 7 Februari 1990 tersebut. Dia menilai, para dukun tidak akan berbohong kepadanya. Karena itu, penelitian tersebut nanti bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ketika mendapatkan cerita-cerita seram tentang santet dan pelet, Asuka menyatakan tidak takut. Dia mengganggap santet dan pelet tidak bakal mengenai orang Jepang. "Saya tidak takut. Itu lucu bagi saya," jelas dia.
Kerja keras terus dia jalani untuk mewujudkan penelitian itu hingga sekarang. Asuka yakin bahwa pemahaman tentang mistik di Indonesia menarik untuk diteliti. Orang Jepang pasti tertarik dengan ilmu mistik tersebut.
Terkait dengan keinginan Asuka meneliti dunia mistik di Indonesia, Fakultas Sastra Unitomo menyambutnya dengan baik. Ketua Jurusan Bahasa Jepang Fakultas Sastra Unitomo Listyaningsih pun berusaha memfasilitasi rencana Asuka itu. "Kami kini mengupayakan untuk mendapatkan bahan-bahan yang dia inginkan," papar dia.
Listyaningsih juga menjelaskan, Asuka merupakan mahasiswa Jepang yang belajar tentang budaya Indonesia selama setahun di negeri ini. Progam tersebut merupakan kerja sama antara Unitomo dan Universitas Setsunan. "Kami juga mengirim mahasiswa Unitomo untuk belajar di sana," terang dia.
Unitomo saat ini juga mendidik seorang mahasiswa tamu lagi dari Jepang. Dia bernama Sato Keisuke, 22, asal Meike, Niguta, Jepang. Berbeda dengan Asuka, Keisuke lebih tertarik dengan batik. (riq/c11/ari)
Repost dari www.jawapos.com
|