Detail Berita

Image


Disela jadwal latihannya yang padat, Satria Tama menyempatkan pulang ke Sidoarjo. Dari sang pelatih Indra Sjafrie, ia diizinkan pulang untuk menerima penghargaan dari Gubernur Jatim Khofifah Indra Parawansa. Pesepak Bola Internasional yang berposisi sebagai penjaga gawang Tim Nasional ini tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2015 pada program studi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Unversitas Dr.Soetomo (Unitomo) Surabaya.
Disela waktunya saat pulang itu pula, Satria menyempatkan datang ke kampusnya, Unitomo untuk memprogram Rencana Studi di semester genap ini. Ditemui disela-sela pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) ia banyak bercerita tentang masa depan dan karirnya nanti selepas tidak aktif lagi di dunia persepak bolaan Tanah Air. “ Kuliah tetap penting, saya sadar karena selamanya pasti tidak bisa berkarier penuh menjadi atlit sepak bola”, tutur bungsu dari tiga bersaudara ini. “Untuk mengimplementasikan ilmu saya, rencananya kedepan setelah lulus saya ingin menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara), ”imbuhnya.
 
Kiper Timnas. U-22 yang lahir di Sidoarjo 23 Januari 1997 ini banyak menceritakan kecintaannya  di bidang olah raga. Pada awal obsesinya adalah di cabang atletik. Namun seiring berjalannya waktu iapun jatuh cinta pada cabang sepak bola. “Alhamdulillah, keluarga saya sangat suport dengan obsesi dan tujuan saya terutama Ayah. Beliau sejak kecil membiasakan dan memotivasi saya bahwa semua itu nomor satu. Sekolah nomor satu, ibadah nomor satu, bola nomor satu,” ujar Satria.

Ketika dia awal fokus ke bidang atletik, membuatnya banyak di lapangan dibanding sekolah. Kendati demikian dia tidak meninggalkan, apalagi melupakan kewajiban menempuh pendidikan. Karena konsisten membagi waktu sejak kecil, membuat Satria kini tak kesulitan antara bola dengan kuliah.
Pada awal studi di Unitomo, terkadang Satria kuliah dulu dan sebaliknya. Baginya menjadi pesepak bisa menjadi gantungan profesi yang tidak selamanya. Keasyikkan dia dapatkan sejak menekuni bola saat masih di bangku sekolah SMP Bhayangkari 1 Surabaya. Itu setelah dia sebelumnya bergabung dalam Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda (IM) di kawasan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari.
Pasang surut dunia bola sempat dia rasakan. Banyak SSB di Surabaya ‘lesu darah’, kompetisi internal tidak jalan dan jarang latihan. Ketika ada Akademi Widodo Cahyono Putro (WCP) di Kabupaten Gresik yang didirikan Widodo Cahyono Putro, mantan punggawa Persebaya, Satria mendaftar. Dia pindah dari IM ke WCP. Sejak saat itu, karir bola ditapaki Satria. Dia akhirnya masuk ke Persegres Yunior, kemudian senior. Hingga akhirnya terbukalah jalur masuk Timnas, masuk dan hingga kini, Alhamdulillah. “Semoga prestasi Timnas ini terus berlanjut, menjadi kebanggaan dunia sepak bola nasional. Semoga ini menginspirasi bibit bibit pesepakbola nasional. Untuk adik adik terus semangat, terus berlatih, jangan takut bermimpi. Tidak usah dengarkan omongan orang lain yang bertanya mau apa, mau jadi apa di sepak bola. Harus fokus sama tujuan,” harap anak pasangan Bambang Hardiyanto dan Saning.
Satria hingga kini fokus ke Timnas U-22. Kendati demikian dia berharap kelak bisa bergabung ke Timnas senior. Satria mengaku kuliah karena di bola tidak seterusnya karena ada batasan umur. Kuncinya menjaga kondisi agar bisa main bola hingga nanti tidak bisa main lagi.  
Terlebih Unitomo memberikan kemudahan dengan memberikan program blanded learning yang memadukan perkuliahan tatap muka dengan jarak jauh melalui piranti dalam jaringan (daring). “Alhamdulillah saya bisa membagi waktu. Saya juga ingin sepenuhnya memanfaatkan kesempatan belajar atas beasiswa dari Unitomo,” sebut alumni SMAN 10 Surabaya ini.
Budiono selaku dosen pembimbing akademik mahasiswa (DPAM) Satria Tama ikut bangga dengan Satria. Budiono mengaku masih ingat betul ketika Satria awal masuk kuliah dengan cidera pada jari tangan. “Sejak Mas Satria masuk itu mahasiswa murni. Awal masuk yang masih saya ingat jarinya cidera. Untuk jadwal perkuliahannya, kita sesuaikan waktunya dia (Satria). Karena kendalanya pada waktu. Sama pak dekan FIA, ini dibahas. Jangan sampai nasib kuliah Satria sama dengan Evan Dimas yang sempat ganti Nomor Induk Mahasiswa (NIM),” kata Budiono.
Karena itu,  kampus  memberikan  perlakuan  khusus  pada semua atlit olah raga yang kuliah di Unitomo. Salah satunya, dengan e-learning atau kuliah jarak jauh. Bisa juga blanded learning. Jadi ada tugas yang diberikan melalui kuliah daring. “Intinya, kita memberi nilai tapi harus ada tugas, ada perkuliahan. Dan ini tidak menyalahi aturan. E-learning, blanded learning diperbolehkan secara aturan,” ujar Budiono menambahkan.(AGBAR)