Detail Berita

Image

Sebanyak 1.311 lulusan program D3, S1 dan S2 Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Sabtu dan Minggu (12-13/09) kemarin diwisuda rektor Unitomo Dr. Bachrul Amiq, SH, MH di Dyandra Convention Center. Tidak semua hadir di lokasi acara. Sebanyak 272 lulusan mengikutinya secara online atau daring (dalam jaringan). Sedang 1.059 lulusan lainnya, meski hadir secara fisik, namun tidak dalam sekali sesi.

 

            Atas saran dan koordinasi dengan pihak gedung serta Gugus Tugas Covid, panitia menerapkan protokol kesehatan yang amat ketat, dengan membagi pelaksanaan prosesi wisuda selama 2 hari itu dalam 4 sesi, pukul 08.00 sampai 11.00 untuk sesi 1, dan pukul 14.00 sampai 17.00 untuk sesi 2 setiap harinya. Hal ini, seperti disampaikan ketua panitia Dr. Siti Marwiyah, SH, MH, agar tidak terjadi kerumunan saat menjelang, saat acara, dan saat pulangnya undangan. "Tiap sesi kami batasi maksimal hanya dihadiri 800 - 900 undangan, jauh dari kapasitas normal gedung sekitar 3.000 orang. Pengaturan jeda selama 3 jam dari sesi 1 ke sesi 2, selain memberi waktu bagi pihak gedung melakukan sterilisasi ulang menjelang sesi ke 2, juga untuk menghindarkan kemungkinan bertumpuknya arus undangan di sesi 1 yang hendak keluar dengan arus undangan sesi ke 2 yang hendak masuk gedung", ujar Siti Marwiyah, yang juga menjabat sebagai wakil rektor I Unitomo ini seusai acara (13/09).

 

            Dengan jumlah undangan yang dibatasi secara ketat, termasuk larangan bagi anak kecil dan orang tua berusia lanjut, serta syarat menunjukkan surat keterangan hasil rapid test non reaktif, tambah Siti, maka panitia bisa mengendalikan acara dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. "Melaksanakan wisuda di era new normal memang menuntut kita untuk melakukan banyak penyesuaian. Bukan hanya gedung yang meski ber-AC tapi kami minta tetap dibuka semua pintunya untuk menjaga sirkulasi, tapi juga tatalaksana upacara wisuda kami rubah total. Diantaranya yang terpenting, untuk makin mengurangi resiko terjadinya penumpukan saat pulang, maka seusai prosesi pemindahan kuncir toga oleh rektor, yang tanpa diiringi jabat tangan seperti biasanya, wisudawan langsung pulang beserta orangtuanya, tanpa harus menunggu acara selesai. Dan hasilnya, alhamdullillah, hampir tidak terjadi kerumuman, mulai dari saat undangan mau masuk gedung, selama acara, hingga saat mereka pulang meninggalkan gedung", imbuh adik kandung Menkopolhukam, Mahfud MD, ini.

 

            Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor Unitomo Dr. Bachrul Amiq, SH, MH, mewanti-wanti seluruh wisudawan, juga panitia yang terlibat dalam mempersiapkan acara wisuda ini untuk selalu menjalankan protokol kesehatan di mana pun berada. "Sebenarnya, lebih mudah bagi saya untuk memutuskan menggelar acara wisuda ini secara online, seperti dilakukan banyak kampus lain. Tapi karena banyak juga calon wisudawan meminta agar momen penting ini bisa tetap terselenggara secara offline. sebagai peristiwa sekali seumur hidup, maka saya akhirnya memutuskan untuk menggelarnya secara offlline dan online bersamaan. Oleh karena itu saya minta panitia untuk benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Yang online kita laksanakan dengan memanfaatkan aplikasi zoom, sedang yang offline kita laksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Kita semua tentu tidak ingin muncul kluster Covid baru dari acara wisuda kita ini", ujar Bachrul Amiq.

 

Apresiasi Ketua L2Dikti

            Pelaksanaan wisuda selama 2 hari yang berlangsung relatif lenggang, tidak seperti umumnya wisuda di saat sebelum pandemi ini juga dihadiri Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Hadir di sesi 1 hari pertama, serta sesi ke 1 hari ke dua, Soeprapto menyampaikan apresiasi atas langkah Unitomo menggelar wisuda baik secara online maupun offline untuk mengakomodasi keinginan para calon wisudawan yang ingin mengikuti acara ini secara offline sebagai momen penting dalam hidupnya namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. "Ini langkah berani, dan harus dieksekusi secara hati-hati dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Dan saya lihat Unitomo berhasil melakukannya. Menurut saya, ini perlu dicontoh oleh kampus-kampus lain, karena kebanyakan hanya menggelar wisuda secara online, atau offline tapi hanya diikuti oleh wisudawan tertentu, biasanya yang berprestasi saja sebagai perwakilan", ujar Soeprapto.